Ada Jasa Bongkar Koper di Hotel


KOMPAS.com - Sudah susah-susah mengemas barang-barang dan dimasukan ke dalam tas untuk berlibur, sesampainya di hotel tujuan, tas itu harus dibongkar lagi. Kebanyakan orang tidak menyukai sesi membongkar tas.

Tetapi, urusan unpacking atau membongkar tas, mau tak mau. Jika tidak, baju-baju Anda bisa mudah lecek. Urusan bongkar tas dipandang menyebalkan karena dianggap menunda waktu untuk cepat-cepat menikmati liburan.

Akhirnya, banyak tamu hotel yang memilih untuk membiarkan baju di dalam tas. Lemari yang tersedia di dalam kamar hotel pun jadi seakan tak berguna. Namun, hal ini mungkin akan berubah.

Bagaimana jika ada seorang petugas hotel yang membongkar atau mengemas kembali tas Anda? Walaupun terdengar asing, tetapi beberapa hotel mewah telah menyediakan jasa ini. Apakah pelancong mewah benar-benar membiarkan orang asing membongkar tas dan mengemas barang-barang ke dalam tas mereka?

"Tidak semuanya. Tetapi pelancong yang memang menggunakan jasa ini, mereka menyukainya," kata Alexander Mattinson, kepala pelayan di hotel St. Regis Deer Valley yang berada di Utah, Amerika Serikat, kepada majalah Park City Magazine.

"Kami menggunakan banyak kertas tisu. Kami selalu menempatkan barang yang berat di bagian bawah tas. Jangan biarkan baju berwarna saling bersentuhan dan setiap kancing dibungkus tisu sehingga benda-benda lain tak tersangkut di kancing. Perlengkapan mandi masuk di akhir, sehingga bisa selalu tersedia jika tamu membutuhkannya, lanjut Mattinson.

Setiap kancing dibungkus tisu? Terkesan berlebihan, tetapi bisa jadi ini menjadi hal baru bagi hotel-hotel di dunia untuk semakin menyenangkan pelanggannya. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda akan membiarkan staf hotel melipat pakaian dalam Anda atau Anda lebih suka untuk berkemas sendiri?

Pasar Taman Puring, Surganya Sepatu Murah


KOMPAS.com Jakarta memang patut menyandang gelar sebagai destinasi wisata belanja. Pasalnya, Jakarta memiliki tempat belanja dari harga ningrat sampai merakyat.

Salah satunya adalah Pasar Taman Puring. Pasar ini terkenal dengan beragam sepatu yang ditawarkan. Anda bisa menemukan sepatu-sepatu berkualitas dengan harga yang terjangkau dan bisa ditawar.

Terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Pasar Taman Puring menjadi incaran semua kalangan. Tua, muda, laki-laki, maupun perempuan, semua berbelanja di sini. Tentu, kebanyakan dari mereka mencari sepatu.

Sepatu yang dijual di Pasar Taman Puring memiliki jenis yang beragam. Mulai dari sepatu sekolah, sepatu olahraga, sepatu untuk bekerja, sepatu boots, sepatu kets, sepatu trekking, sampai sepatu hiking. Bahkan ada juga sepatu wanita seperti flat shoes, wedges, dan high heels.

KOMPAS.com/Tri Wahyuni Pasar Taman Puring, Jakarta. Pilihannya sangat beragam. Begitu juga dengan kualitasnya. Ada sepatu dengan kualitas original sampai sepatu buatan lokal. Model dan warnanya juga sangat menarik mata. Mulai dari model klasik sampai keluaran terbaru pun ada.

Banyaknya sepatu dengan beragam model dan warna sering membuat pelanggan kewalahan. Misalnya saja Eva. Ia khusus datang dari Bogor ke Pasar Taman Puring, hanya untuk membeli sepatu sekolah untuk anaknya.

Dari jam sebelas siang sampai jam dua siang, anaknya masih sibuk memilih sepatu di sana-sini. Sementara Eva hanya duduk akibat kelelahan. Eva dan anaknya mengaku sering mengunjungi pasar ini karena harga murah dan barangnya awet.

Untuk kisaran harga, sepatu di Pasar Taman Puring memang tergolong murah. Anda bisa mendapatkan sepatu mulai dari h arga Rp 50.000 sampai ratusan ribu rupiah, tergantung kualitas barang yang diinginkan. Jika Anda ingin berbelanja dalam skala besar, Anda bisa mendapatkan dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan membeli satuan.

Pembeli di Pasar Taman Puring tidak hanya membeli untuk kepentingan pribadi. Banyak juga pengunjung yang membeli dengan jumlah yang besar untuk dijual lagi. Salah satunya adalah Ridwan. Pria asal Sulawesi ini membeli banyak sepatu dan baju untuk di jual lagi.

Saya beli sepatu satu lusin, baju dua lusin. Di sini enak bisa dapat harga murah, kata Ridwan.

Harga yang murah mengakibatkan pasar ini selalu dipadati pengunjung, apalagi ketika akhir pekan tiba. Ratusan manusia memenuhi gang-gang pertokoan yang sempit. Jika pasar ini sedang penuh, berjalan pun akan sulit. Maklum, ukuran pasar dengan jumlah kios sebanyak 710 buah ini memang tidak terlalu besar.

KOMPAS.com/Tri Wahyuni Pasar Taman Puring, Jakarta. Walaupun pasar sangat padat ketika ramai pengunjung, Anda tidak perlu khawatir dengan urusan keamanan pasar. Menurut Kepala Keamanan Pasar Taman Puring, M. Zein, selama ini tidak ada pengaduan tentang tidakan kriminalitas yang terjadi di pasar.

Sampai hari ini keamanan, baik di dalam maupun di lingkungan, aman. Tidak ada keluhan dari pedagang dan konsumen," kata Zein.

Terjaminnya keamanan di pasar ini juga didukung oleh adanya kantor polisi tepat di sebelah pasar. Pasar Taman Puring merupakan bangunan yang memiliki dua lantai. Di lantai satu, terdapat 626 kios, sementara di lantau dua terdapat 84 kios. Fasilitas di sini cukup lengkap. Ada toilet umum, mushola, tempat parkir, dan tempat makan.

Tidak hanya sepatu

Walaupun terkenal sebagai pasar sepatu namun barang yang dijual di Pasar Taman Puring cuk up beragam. Dari barang baru sampai barang bekas pun berani dijajakan. Selain sepatu ada pula sandal, baju, dan celana.

Untuk baju, ada kaos, kemeja, sampai jaket. Pasar Taman Puring juga menjual aksesoris seperti topi, gelang, kalung, cincin, tas, ikat pinggang, dompet, serta jam tangan. Peralatan eletronik juga ada. Beberapa kios juga menjual peralatan olahraga.

Di lantai dua, Anda juga bisa menemukan penjual kaset, CD, bahkan piringan hitam. Kebanyakan yang dijual adalah karya musisi lama. Namun, Anda juga bisa menemukan yang musik-musik terbaru di sini.

Lokasi strategis

Pasar Taman Puring memiliki lokasi yang strategis. Hal ini dikarenakan banyak angkutan umum yang melewati pasar tersebut. Dari Terminal Blok M, Anda cukup naik angkutan umum sekali saja untuk mencapai pasar ini.

Namun, lokasinya tepat berada di pinggir jalan. Jadi di saat jumlah pengunjung sedang membludak dan parkiran penuh, kawasan ini sering macet karena bahu jalan dijadikan tempat parkir.

Untuk Anda yang lelah berbelanja, Anda bisa melepas penat dan bersantai di Taman Puring. Lokasinya tepat di sebelah Pasar Taman Puring. Tempatnya yang hijau dan rimbun cocok sekali untuk melepas lelah. Di taman ini juga disediakan bangku untuk pengunjung bersantai.

Bukhari, Kesetiaan pada Si Mak Itam


JARUM jam masih menunjukkan angka 02.45 ketika Bukhari sudah menyelinap di kabin lokomotif uap Mak Itam, pertengahan Maret 2013. Di kakinya, tumpukan batubara mulai diserok ke tungku pembakaran. Tangannya yang lincah memantik api untuk memulai pembakaran.

Dinginnya udara Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, saat itu segera terusir oleh panas bara api dari tungku lokomotif kuno bernomor seri E 1060. Beberapa saat berselang, asap putih mulai keluar dari cerobong lokomotif.

Sementara itu, kabin masinis di lokomotif berumur 50 tahun tersebut segera penuh dengan asap hitam yang menyelip keluar dari celah pintu tungku pembakaran. Si Masinis, Bukhari yang bolak-balik ke kabin masinis, tidak bisa menghindari noda hitam partikel batubara yang menempel di sekujur tubuhnya.

Beginilah kalau jadi masinis kereta uap. Kerjanya berat dan pasti kotor. Untuk memanasi ketel air, perlu waktu minimal 5 jam sebelum kereta dijalankan. Kalau waktu pemanasan kurang, tenaga uap yang dihasilkan juga berkurang, kata Bukhari sambil tersenyum.

Waktu pemanasan ketel uap ini bisa bertambah bila ada banyak pipa pembakaran yang bocor lantaran besi keropos. Itu pun belum tentu bisa menghasilkan tekanan uap yang cukup untuk menggerakkan kereta. Bila tekanan tidak juga mencapai batas minimal, proses pemanasan ketel diakhiri tanpa sempat lokomotif ini beroperasi.

Kerja keras masinis lokomotif uap ini jauh lebih berat dari masinis kereta diesel. Kalau lokomotif diesel, pengendalian kereta banyak dilakukan dengan tombol-tombol. Masinisnya juga tidak menjadi hitam kena asap, ujar Bukhari yang juga aktif mengemudikan lokomotif diesel sejak tahun 1986.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Kereta api wis ata bertenaga batu bara, Mak Itam, dipakai untuk membawa pebalap sepeda menuju ke lokasi start etape 6A Tour de Singkarak 2011 Sawahlunto menuju Istano Basa Pagaruyung, Sumatera Barat, Sabtu (11/6/2011). Panitia sengaja mengajak peserta Tour de Singkarak 2011 menaiki kereta api Mak Itam untuk mempromosikan potensi wisata di kota Sawahlunto. Meskipun harus merelakan waktu istirahat malamnya, dia tetap gembira mempersiapkan satu-satunya sisa lokomotif uap di kota arang itu.

Sukarnya pemanasan ketel air pada lokomotif uap ini yang membuat lokomotif uap di masa lampau digunakan 24 jam. Kalaupun tidak dipakai untuk menarik kereta, harus ada petugas yang menunggui lokomotif agar ketel uap tetap panas, papar Bukhari.

Kini, Bukhari memimpin dua pekerja saja yang memiliki kemampuan menangani Mak Itam. Dengan keterbatasan personel, mereka tidak mungkin menjaga tungku api mengebul sepanjang hari. Selain itu, dibutuhkan sekitar 1 ton batubara untuk sekali perjalana n singkat Mak Itam.

Masinis langka

Setelah era lokomotif uap surut, tidak banyak lagi masinis yang masih mewarisi kemampuan mengoperasikan lokomotif uap. Selain karena menuntut kerja berat, pengoperasian lokomotif uap memiliki risiko tinggi.

Kemampuan Bukhari mengoperasikan dan merawat lokomotif uap didasarkan pada pengamatan dan ketekunannya. Apalagi, dia baru bergabung dengan Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) di Solok pada tahun 1983, setelah semua lokomotif uap ditarik dari Sumatera Barat.

Waktu awal Mak Itam mau didatangkan lagi ke Sawahlunto, saya ditawari untuk menjalankannya karena tidak ada orang lain yang mau. Saya terima tawaran itu meskipun saya tidak tahu cara mengoperasikan lokomotif ini. Saya amati saja cara mengoperasikan lokomotif uap ini dari kawan di Ambarawa, kata Bukhari.

Setelah mengetahui celah-celah untuk menjalankan kereta uap, Bukhari pun memberanikan diri untuk menjalankan ke reta ini.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Lokomotif uap Mak Itam menarik gerbong berisi pebalap dan ofisial yang berlaga di Tour de Singkarak 2012 menuju start etape pertama di Sawahlunto di tepian Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Minggu (3/6/2012). Menjalankan lokomotif uap, menurut Bukhari, harus dilakukan dengan ekstra hati-hati karena ada beberapa bagian yang rawan. Salah satunya adalah pompa air yang harus terukur agar tidak menyebabkan ketel uap meledak.

Sistem pengereman di lokomotif uap ini juga berbeda dengan lokomotif diesel. Bila masinis terlalu kencang menarik tuas pengereman, setang pengatur laju roda akan bengkok. Di masa lampau, masinis turun pangkat kalau setang ini bengkok, tutur Bukhari.

Pengalaman yang tidak mengenakkan itu pernah dirasakan almarhum Bahar Lelo Sutan, ayahanda Bukhari y ang juga masinis kereta uap di Sawahlunto.

Pangkat Bahar Lelo Sutan pernah diturunkan karena dia menyebabkan setang lokomotif bengkok. Pengalaman ini yang digunakan Bukhari untuk lebih berhati-hati mengoperasikan lokomotif uap.

Selain itu, rangkaian kereta uap juga membutuhkan kerja sama tim. Alasannya, sistem pengereman tidak tersentral di lokomotif, tetapi harus dibantu di kereta atau gerbong yang ditarik.

Harus ada petugas di rangkaian kereta atau gerbong. Bila mendengar suara suling pengereman, petugas harus menarik rem di kabin penumpang atau di gerbong barang agar kereta bisa berhenti, tuturnya.

Benahi kerusakan

Kerusakan Mak Itam juga menjadi tanggung jawab Bukhari yang kini menjabat sebagai pengawas urusan sarana Depo Solok. Dengan segala keterbatasan, terutama karena lokomotif uap ini juga sudah jarang dipakai di seluruh dunia, Bukhari tetap mengakali agar lokomotif tetap bisa beroperasi.
< br /> KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Kereta api wisata bertenaga batubara, Mak Itam, dipakai untuk membawa pebalap sepeda menuju ke lokasi start etape 6A Tour de Singkarak 2011 Sawahlunto menuju Istano Basa Pagaruyung, Sumatera Barat, Sabtu (11/6/2011). Berbagai persoalan dihadapinya bersama Mak Itam, terutama karena lokomotif ini sudah tua. Sekali waktu, lokomotif uap ini mogok di tengah jalan sehingga tidak bisa lagi mendaki rel menuju Stasiun Sawahlunto. Terpaksalah Bukhari menunggu lokomotif diesel yang tengah menarik kereta wisata. Sampai di lokasi, Mak Itam didorong naik sampai ke Sawahlunto.

Di awal tahun 2013, Mak Itam kembali mogok karena ada 12 pipa pembakaran yang bocor lantaran besi-besinya keropos. Untuk masalah yang satu ini, Bukhari terpaksa angkat tangan karena kerusakan hanya bisa diselesaikan dengan mengganti komp onen pipa.

Dia pernah memanaskan lokomotif ini karena ada permintaan menjalankan kereta dari Pemerintah Kota Sawahlunto. Namun, kerja dari dini hari tidak membuahkan hasil karena tekanan uap belum cukup untuk menggerakkan kereta. Jadilah kerja memanaskan lokomotif sejak dini hari menjadi sia-sia. Ini risiko saya, ucap ayah dari empat anak itu. (Agnes Rita Sulistyawaty)